Ribuan Massa Padati Kongres Rakyat Indramayu
INDRAMAYU-“Allahu Akbar... Hidup Wong Indramayu!... Hidup Provinsi
KRI yang digelar di bawah gerimis tersebut menghasilkan keputusan berjuang dan mendukung penuh terbentuknya Provinsi
Dua pernyataan tersebut dibacakan oleh Ketua Forum Komunikasi RT-RW Kabupaten Indramayu (Fokorgaki), Drs Agus Suprapto saat puncak acara KRI dan kemudian menyerahkan langsung kepada Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, H Hasyim Djunaedi MAg yang saat itu hadir di lokasi.
Di hadapan sekitar 10.000 massa dari berbagai ormas/OKP, serta para ketua RT/RW se-Kabupaten Indramayu, Hasyim menegaskan pihaknya sebagai wakil rakyat mendukung penuh gerakan murni dari masyarakat Indramayu pada KRI ini. “Aspirasi ini kami terima dan siap diperjuangkan sampai terwujud. Apalagi, aspirasi ini sesuai UU 32/2004,” tegasnya.
Organisasi kepemudaan Indramayu juga menyatakan hal yang sama. Dalam orasinya, Harto Prayitno SPdI selaku pembaca naskah pernyataan menegaskan, ormas/OKP Kabupaten Indramayu juga mendukung pernyataan sikap Bupati Yance dan Bupati Cirebon, H Dedi Supardi untuk pembentukan Kaukus Pantura. “KRI bukan hanya acara seremonial semata. Langkah ke depan terus kita upayakan. Kami juga siap mendorong terlaksananya Kongres Rakyat Pantura. Provinsi Cirebon adalah harga mati,” tegas Harto.
Berturut-turut pernyataan kebulatan tekad juga dilontarkan oleh perwakilan ormas/OKP serta elemen masyarakat lainnya yang hadir. Bahkan, dalam kesempatan itu, perwakilan Forum Pemuda se-Wilayah III
PANTURA MACET
Lapangan becek, serta hujan gerimis tidak menyurutkan ribuan
Mereka datang dengan menggunakan bermacam kendaraan baik truk, mobil pribadi, umum, serta sepeda motor. Saking padatnya
Gerakan yang dilakukan oleh wong Dermayu itu menarik perhatian para pelintas di jalan raya. Apalagi, sebelum acara dimulai, sekitar pukul 09.00, ratusan massa yang mengatasnamakan dirinya Front Pendukung Pembentukan Provinsi Cirebon (FP3C) melakukan longmarch dari markasnya menuju lokasi acara sejauh 1 km. Kontan saja, kemacetan di pantura juga disebabkan karena pengemudi melambatkan kendaraannya untuk menyaksikan aksi massa tersebut.
Ormas/OKP yang lain di antaranya KNPI, Pemuda Pancasila (PP), FK PPI, AMPI, BKPRMI, Pemuda Panca Marga (PPM), ICMI Muda, Karang Taruna, Intras, Wamti, AMS, Dewan Kesenian Indramayu (DKI), KOTI MAHATIDANA, As-Syahadatain, The WKC, KMSCI, ORARI, RAFI, Tugas Prakarsa Siliwangi (TPS), serta Orang Indonesia (OI), juga tidak kalah antusiasnya.
Masing-masing membentangkan spanduk, baliho dan aneka plamfet yang disebar dan dibagikan kepada
Ketua Forum Komunikasi RT-RW Kabupaten Indramayu (Fokorgaki), yang dibacakan ketuanya Drs Agus Suprapto tersebut, menyatakan masyarakat Ciayumajakuning memang memiliki keinginan kuat untuk memisahkan diri dari Jabar demi pendekatan pelayanan dan percepatan pembangunan. “Menguatnya kembali keinginan membentuk Provinsi Cirebon ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Indramayu sadar bahwa selama hak-haknya terabaikan. Selain itu juga agar pelayanan lebih mudah, cepat, dan efektif,” jelas Agus.
Dari aspek kesejahteraan dan pembangunan di wilayah III Cirebon sampai kini masih memprihatinkan. Sejak dulu masyarakat pantura dianaktirikan. Sehingga tidak heran, tingkat kesejahteraan dan pembangunannya, jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah lain.
Padahal, kata Agus, secara faktual konstribusi daerah wilayah III Cirebon terhadap pendapatan Provinsi Jabar tidaklah sedikit. Dari sektor pajak (PKB, BBNKB, PBBKB, ABT, APER, Kemotrologian, hasil hutan dan bagi hasil migas) uang yang disetor ke provinsi, nilainya mencapai sekitar Rp500 miliar. “Namun, yang kembali ke daerah masing-masing hanya 30 persennya saja,” ungkap Agus.
Secara politik, tambahnya, wong pantura juga tidak diberi ruang dan kesempatan untuk memimpin Jawa Barat. “Seperti pada Pilkada Jabar 2008 ini,” tegasnya. (kho)
Kamis, 07 Februari 2008
Provinsi Cirebon Harga Mati !!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar